Selasa, 19 November 2013

SEMESTA YANG HILANG

inilah lagi zamannya
di saat kebenaran tak lagi dihargai
seperti sebuah keadilan
yang terus terjual bagai seikat sayur
yang dijual di pasar tradisional

hidup seperti apakah yang arus kita tempuh
jika semua ini kita biarkan berlalu
apakah kita sudah kehilangan nurani
dan sudah terjualkah harga diri kita
bagai sepotong daging segar di pasar induk

inilah zamannya semesta yang terenggut
pemerkosaan hati nurani terus kita lakukan
sementara itu merosotkan harga diri kita
dan kita hanya bisa melongo
melihat penindasan-penindasan di depan mata kita
putuskan saja urat nadi kita
jika semua itu kita biarkan atau malah kita campuri
perkosa saja anak perawan kita
jika kita biarkan bangsa kita bersimpuh terhina

inilah zamannya semesta yang ternodai
oleh setiap tingkah
yang kita sebut sebagai penyelamatan
yang tanpa tandeng aling-aling
kita pakai topeng keadilan
di mana muka kita sebagi putra bangsa
pembela tanah air
memang tinggal cerita
dan itu buatan kolonial penjajah sekejam Jepang
namun haruskah kita nodai maknanya
aruskah kita setubuh dengan keji

inilah zamannya semesta yang terenggut
oleh setiap tingkah kita
yang mengatasnamakan kesejahteraan
kesejahteraan rakyat jadi topik orasi bual semata
kesejahteraan rakyat terus dielu-elukan
namun hak rakyat tersebut
malah ditiduri dengan nafsu
kesejahteraan pendidikan
jadi bahan opini bohongan saja
namun pendidikan menangis meronta
mempertahankan kehormatannya


inilah zamannya semesta yang hilang
oleh setiap tingkah kita
yang mengatasnamakan pengentasan kemiskinan
tapi setiap hari kemiskinan jadi masalah besar
pengangguran juga malah jadi barang dagangan
yang stoknya tak habis pakai
menyedihkan
jika kita sebut ini takdir
sementara kita yang menebar kesalahan
inilah zamannya semesta yang terenggut
oleh segala macam tuntutan

Andam Dewi. Senin, 24 Nopember 2008 Pukul 24.00 WIB

DENDANG PENGHUNI MALAM

Di sudut penghujung malam
Terdengar lenguhan dendang penghuni malam
Seolah berbisik membawa pesan
Tapi entah apa
Hanya seutas suara lenguhan lelah
Ibarat rentetan peristiwa yang mengalir dari rahang sang waktu
Lantas menepis
Bagai laju kereta kencana yang berhias rindu

Di tepi malam aku termangu dalam sunyi
Dengan pikiran terbias kemelut
Kemelut yang terus tersalut
Bagai api amarah yang tak berhenti membara
Sementara kaki langit berdiri kokoh
Di antara sayap yang ganas
Namun dendang penghuni malam
Terus berbisik di telingaku
“Habisi...!!!”
“Sikat saja, sebelum semua berlalu!”

Ku pejamkan mata tak sanggup mendengar
Ku sapu seisi jagad
Apa yang kulihat
Hanya seonggok tubuh letih seorang pengelana cinta
Terbaring lesu tak berdaya
Didekap letih yang malang melintang
Deru nafas memburu
Dengkur yang halus itu membuatku terlena
Nafas yang menyiratkan sebuah harapan
Yang tak kunjung tiba di depan mata

Iblis-iblis menggerayangiku
Dengan bisik-bisik nakal
Tapi dendang para penghuni malam
Terus berkumandang tanpa henti
Dengan senandung yang mengerikan
Yang membuatku terpaksa menatap langit
Yang dihuni jutaan bintang
Simbol keagungan Sang Pencipta

“Habisi...!!!”
“Sikat...!!!”
“Tunggu apa lagi?”
“Malam ini milikmu...!!!”
“Jangan terlalu banyak pikir...!!!”
“Tidak.....!!!!!” teriakku
Dan dia terjaga dari lelapnya

Pusara Cinta
Andam Dewi. Senin, 26 Mei 2008 Pukul 12.00 WIB

LENGUHAN SENJA

Di sudut penghujung malam
Terdengar lenguhan dendang penghuni malam
Seolah berbisik membawa pesan
Tapi entah apa
Hanya seutas suara lenguhan lelah
Ibarat rentetan peristiwa yang mengalir dari rahang sang waktu
Lantas menepis
Bagai laju kereta kencana yang berhias rindu

Di tepi malam aku termangu dalam sunyi
Dengan pikiran terbias kemelut
Kemelut yang terus tersalut
Bagai api amarah yang tak berhenti membara
Sementara kaki langit berdiri kokoh
Di antara sayap yang ganas
Namun dendang penghuni malam
Terus berbisik di telingaku
“Habisi...!!!”
“Sikat saja, sebelum semua berlalu!”

Ku pejamkan mata tak sanggup mendengar
Ku sapu seisi jagad
Apa yang kulihat
Hanya seonggok tubuh letih seorang pengelana cinta
Terbaring lesu tak berdaya
Didekap letih yang malang melintang
Deru nafas memburu
Dengkur yang halus itu membuatku terlena
Nafas yang menyiratkan sebuah harapan
Yang tak kunjung tiba di depan mata

Iblis-iblis menggerayangiku
Dengan bisik-bisik nakal
Tapi dendang para penghuni malam
Terus berkumandang tanpa henti
Dengan senandung yang mengerikan
Yang membuatku terpaksa menatap langit
Yang dihuni jutaan bintang
Simbol keagungan Sang Pencipta

“Habisi...!!!”
“Sikat...!!!”
“Tunggu apa lagi?”
“Malam ini milikmu...!!!”
“Jangan terlalu banyak pikir...!!!”
“Tidak.....!!!!!” teriakku
Dan dia terjaga dari lelapnya

Pusara Cinta
Andam Dewi. Senin, 26 Mei 2008 Pukul 12.00 WIB

SELAMAT JALAN AYAH

kini engkau telah dipeluk bumi
tanah perantauan jauh di sana
meski hanya darah dalam tubuh kami yang engkau wariskan
namun kami tau siapa engkau sebenarnya
disuka atau tidak perbuatanmu kepada kami
diterima atau tidak perlakuanmu kepada kami
hanya satu yang pasti buat kami
engkau tetaplah ayah kami
yang memberi kami kehidupan

air mata yang menetes ini
adalah bukti kalau kami mengingatmu
meski kami tau semua ini tak pantas diungkit
namun kita masih pernah bersama
dan kami masih bisa mengingat wajahmu
ketika kami mendengar berita kepergianmu


kini engkau telah dipeluk bumi
tanah perantauan jauh di sana
sepenuhnya kami tak bisa membencimu
walaupun lebih delapan tahun dirimu biarkan kami
kering tanpa kasih sayangmu
hidup tanpa motivasi dari mu
berjalan tanpa nasihat apa-apa dari bibirmu
meski kami malu pada tatap-tatap mata
ketika rumah ini menjadi rumah duka
namun kau ayah kami satu-satunya

air mata yang mengalir ini
adalah bukti kami pernah mengharap untuk melihatmu
untuk terakhir sebelum ajal menjemputmu
namun tuhan di atas sana berkehendak lain
dan tak membiarkan tubuhmu yang ringkih
berbaring di tengah-tengah kami saat ajalmu tiba
dan tak membiarkan tubuhmu yang ringkih
dipeluk tanah kelahiranmu di sini
dan itu tak lagi dapat kami sesali sepenuhnya

kini kau telah dipeluk bumi
tanah perantauan jauh di sana
mungkin hanya do’a yang bisa kami kirim padamu
moga di atas sana tuhan memberimu ampunan-Nya
atas dosa-dosa yang engkau perbuat semasa hidup
kami ikhlas atas kepergianmu
maaf kami dari anak-anakmu
tiada dendam lagi, tiada benci lagi
selamat jalan untuk ayahanda

Andam Dewi, September 2006

(Kepada Ayahanda  Alm. Aswir Sihaloho: November 1956-1 September 2006. Meninggal Jum’at,1 September 2006. Tutup Usia: 50 Tahun)
Kami yang berduka:
(Anak-Anakmu) Nurhusna Sihaloho, Rizqan Thaib Sihaloho, Zainal Arifin Sihaloho, Nurhusnaini Sihaloho, Nur Santri Sihaloho, Ayu Nadra Sihaloho.
(Menantumu): Sunardi Sinaga.
(Cucu-cucumu): Ridho Ardiansyah Sinaga.
Telah terbit di Harian Metro Siantar edisi Minggu, 26 Nopember 2006.

SAJAK LISSOI

dalam duka aku kadang bergurau
sampaikah rinai rindu ini ke hatimu
ketika kuas cinta tak mampu
menyulap warna jadi rindu
biarlah rindu hanya milikku
karena cinta atau rindu
entah biru entah kelabu
untuk apa kita cari tau
jika kita tak akan peduli semua itu

tapi malam-malam kelabu
seperti desingan-desingan peluru
yang tak kenal rindu
tapi aku akan masih seperti dulu
tak bejat tak lugu

Andam Dewi.
15 Agustus 2011
Pukul 19.13 WIB

ANAK MIMPI

kamu tak mesti mengerti aku,
tak mesti paham cara pikirku,
tak mesti tau seperti apa jiwaku
karena semua duniaku takkan bisa kau  pahami
aku datang dan pergi dari sunyi
dengan sebait bualan sumbang
dengar jika kau  mau dengar
dan pergilah ke duniamu jika kau benci itu
aku tak akan pernah tinggalkan ini
hanya karenamu

aku tak akan lari meski kau pergi
liat masa laluku!
oo, itu tak seberapa penting, nona
dedaunan masih bisa ku ajak berbisik
angin masih bisa ku ajak menari
api masih bisa ku ajak bercengkerama
air masih bisa ku ajak berkejaran

tak kau dengarkah laju kereta mimpi itu
yang hanya mampu bernada do re mi
tapi aku anak mimpi
ayahku mimpi buruk
ibuku mimpi indah


Andam Dewi.
Sabtu, 13 Agustus 2011.
Pukul 18.50 WIB

SAJAK MALAM 2

kini ku jalani saja sepi
kini ku arungi saja rindu
kini ku diami saja sunyi
kini ku hiburi saja hati
kini ku dekapi saja kelam
kini ku turuti saja langkah
dan esok aku akan tetap berharap
cintamu bagai hamparan samudera

mungkin akan menenggelamkanku
mungkin akan meniadakanku
dengan harapan yang tiada tepi
gerimis yang berderai
seakan memandangku
tiadakah cinta yang membahagiakan?
semua katamu teka-teki
candamu menyesatkanku
tak tentu arah
adakah perjalanan mengerti
cinta yang ku rasa untukmu

Andam Dewi.
Kamis, 14 Juli 2011
Pukul 13.30 WIB

SAJAK MALAM

ketika kicau rindu
berayun merdu
sampaikah deru itu di dadamu
atau malah terlewat
dari bisingnya deru impianku
pandanglah hamparan di depanmu
berapa banyakkah syair
yang akan mengantarmu
pada rasa seperti rasaku ini
malam kadang tak percaya
kalau aku juga mengantuk
tapi adakah ia membiarkan aku terlelap
wajahmu terlukis jua
di samping sang waktu
pikiran tak lagi
mampu mengerti
rumus apa yang akan kuukir esok
mencoba memahami rasa
tak peduli kokok ayam yang bersahutan
adakah yang begitu
sampai di bunga tidurmu
malam ini
jika tidak
hembuskan nafasmu tiga kali
dengan filosofi jenuh
agar aku bisa menceritakan
pada dinding-dinding bisu

Andam Dewi.
Jum’at, 08 Juli 2011

Pukul 23.01 WIB

Senin, 18 November 2013

SUKSES BERSAMA ALPABHET

Menurut pakarnya, manusia sukses tidak Cuma dari IQ saja. Peran EQ (Emotional Intelligence) pada kesuksesan bahkan melebihi porsi IQ. Seorang pakar EQ bernama Patricia Patton memberikan tips bagaimana kita menemukan dan memupuk harga diri. Bersama rumus alphabet berikut, kamu akan menemukan kesuksesan. Coba deh!


a.       Accept
Terimalah diri kamu apa adanya. Sesungguhnya setiap orang mempunyai jalan kehidupannya sendiri-sendiri. Tak pernah seseorang sama dengan yang lainnya. Saya mungkin menjadi saya yang membuat orang lain merasa paling nggak gue banget! Karena sayalah yang memiliki keautentikan itu. jangan pernah menuntutku untuk sama dengan si anu, si itu, dan siapa-siapa. Eit, tapi jangan sombong dulu, apalagi bilang saya sombong. Kita sama kawan! Saya anak cewek (pasti banyak yang merasa sejenis), makhluk social, dan ber-Tuhan.

Apa yang membuat bunga-bunga bermekaran? Tentunya bukan karena keharuaman yang akan dibanggakannya. Kadang semua tersembunyi dalam rangkaian kelopaknya; untuk janjikan pesan kehidupan, bahwa kita ditopang. Warna kita tak sepenuhnya sempurna, dengan segala atribut kepemilikan. Walaupun kita berwarna … ada warna yang lain….

Dalam hidup ini, ada hal-hal yang membuat kita berdiri di rumah kaca, walau teman yang kita buat selalu melewati musim semi. Aming (dalam Extravaganza) bisa harum walaupun jauh dari prediksi juara harapan kontes ketampanan. Tetapi keharuman nama kita bukan berarti pada jalur yang sama. Setiap orang punya caranya yang unik untuk sukses dalam kehidupan. Saya ingin menjadi orang yang dijadikan. Saya ingin memiliki apa yang tak kau miliki. Saya, untuk saya sebuah mahligai yang tak dapat disinggahi siapapun! Berani!

b.      Believe
Percayalah terhadap kemampuan kamu untuk meraih apapun yang kamu inginkan dalam hidup. Keyakinan akan mengarahkan gerak langkahmu menuju apa yang inin dicapai. Percayalah, setiap unit kepercayaan yang disumbang Tuhan untuk tetap bertahan dan meraih setiap apa yang diusahakan.

c.       Care
Pedulilah pada kemamouan kamu untuk meraih apa yang kamu inginkan dalam hidup. Gimana caranya kita bisa tahu kalau potensi keunikan itu berjubel dari medan The I dan The Me? Kamu bisa melihat dirimu dengan jujur, atau kamu bisa keluar dari pandangan yang selama ini terfokus pada apa yang kamu lihat dan kamu dengar tentang dirimu. Mungkin sebuah puisi yang mengalir dapat menyederhanakan kerumitan struktur kognitifmu untuk berkata apa adanya.

d.      Direct
Arahkan pikiran pada hal-hal positif yang meningkatkan kepercayaan diri. Jangan ada kata-kata tak bisa. Coba aja dulu! Kesempatan jarang ada dua kali, lho!

e.       Earn
Terimalah penghargaan yang diberi orang lain dengan tetap berusaha menjadi yang terbaik. Penghargaan akan membantu kamu mengenali tanggapan orang akan apa yang tak pernah kamu bayangkan. Ingat, orang lain kadang bisa dijadikan standar kulitas dirimu. Tetapi, kamu juga harus objektif tentang apa yang kamu miliki.

f.       Face
Hadapi masalah dengan benar dan yakin. Segudang masalah memang biasa. Yang luar biasa adalah kita dapat memproduksi sinergi kebangkitan diri. Inilah hal terjarang yang dialami ummat manusia. Kebanyakan malah memproduksi masalah. Tidak mengolahnya menjadi bahan produktivitas. Jika Stephen Covey memberikan menu kebiasaan yang efektif, mengapa kita tidak mengubah masalah itu menjadi suatu kebiasaan yang luar bisa? Ada asumsi bahwa kita sering terjebak pada pemikiran yang sirkuler. Artinya, setiap masalah kita hadapi dengan kelaziman yang stagnan. “Biasanya masalah ini sih diselesaikan dengan cara seperti itu.” Begitulah kira-kira cara menyikapi masalah. Kalau kita menangis karena sedih, itu sudah biasa. Tertawa saat bahagia juga wajar. Tetapi untuk menghadapi suatu persoalan dengan cara yang tepat butuh keterampilan. Kadang orang menganggap permasalahan yang terjadi digulirkan seiring berjalannya waktu. Tak apa. Kalau sesaknya mengalir ke udara. Tetapi jika menyesaknya masih di dada, coba cari alternative yang lebih baik.

Hal pertama yang kita butuhkan adalah mengoleksi serangkaian informasi terkini. Bisa mengkliping segala berita dari koran. Banyak tips seputar masalah psikologi yang dapat dijadikan bahan perenungan. Kadang ada orang yang enggan mencurahkan masalah lewat bahasa lisan yang disampaikan pada keluarga, teman, ataupun ahlinya. Bisa saja dengan cara membaca berbagai koleksi alternative pemecahan masalah itu. kita bisa saja mengobrol dengan aneka koleksi barang-barang bekas sekedar untuk mengenang kenangan lama. Efeknya kerasa banget!

g.      Go
Berangkatlah dari kebenaran. Kadang muncul pertanyaan besar dalam benak kita, hidup seperti apa yang sebenarnya memberikan jaminan kebahagiaan, dengan cara seperti apa kita raih kenyamanan dalam hidup? Tugas kita selanjutnya adalah mencari apa yang menjadi hakekat hidup itu. Walaupun  kita berusaha mempertanyakan segala sesuatu dengan jalur ilmu pengetahuan, maka siap-siaplah untuk kecewa pada hal-hal yang tidak dapat dicerna akal. Ilmu pengetahuan dapat menjawab kebenaran, tetapi secara tidak langsung menyadari keterbatasannya.
Kadang, pengamatan kita pada segala hal akan berkahir pada suatu pertanyaan. Pertanyaan yang selalu berulang-ulang, karena samudera ilmu terlalu luas untuk dijelajahi. Karena dasar lautan terlalu dalam untuk diselami. Ada sesuatu yang hebat dalam diri kita. Ada suatu yang dapat menjadi tujuan. Tidak hanya sekedar mencari sesuap nasi. Tidak hanya duduk di depan komputer. Bahkan mencari berita semata-mata. Bukan itu yang saya cari sebenarnya, karena kepuasan, kepuasan yang selalu tanpa ujung. Akhirnya kita sadari, bahwa ada yang serba Maha di balik semua kejadian yang dihadapi. Ada sesuatu yang Maha Besar dibutuhkan oleh diri. Nah, itulah akhir pencaharuan dari serangkaian penelitian manusia yang terbesar.

h.      Homework
Pekerjaan rumah merupakan langkah penting untuk mengumpulkan informasi. Dengan keterbatasan tangan dan waktu kita, kadang kita perlu rilex dan menikmati pengaruh benda-benda di sekitar rumah atau bahkan hal-hal kecil di dalam rumah seperti lukisan lama yang membuatmu tergugah kembali atau padfa saat mencuci kau dapatkan inspirasi.

i.        Ignore
Abaikan celaan orang yang menghalangi jalan kamu mencapai tujuan. Kritik memang baik. Tetapi jangan asal terima atau berikan tanpa alasan yang jelas. Kalau kamu nyaman merasakan kritikan itu sebagai angin lalu, rasakan saja. Jangan sampai kamu juga nggak tidur semalaman karena kritikannya.

j.        Jealously
Rasa iri dapat membuat kamu tidak menhargai kelebihan kamu sendiri. Pribahasa mencibir Orang sirik tanda tak mampu.  Tapi kamu juga harus iri kalau ada teman yang nyumbang dana gede untuk panti social. Ya, rasa iri yang ala kadarnyalah, atau itung-itung dulu dampaknya. Biasanya juga rasa itu bikin kamu bangkit!

k.      Keep
Terus berusaha walaupun beberapa kali gagal. Kegagalan adalah tabungan kita untuk sukses. Pada saat keberhasilan itu dating, berapa kali hitungan kegagalan yang menggenapkan kesuksesanmu? Menangis karena gagal boleh saja, bahkan adukan pada orang-orang yang kamu percayai. Tetapi, jangan dengarkan keluhan bathin yang membuatmu memutuskan asa.

l.        Learn
Belajar dari kesalahan dan berusaha untuk tidak mengulanginya. Ya, ada saja kesalahan yang selalu diulang-ulang. Belajar itu terlalu luas. Spektrumnya bisa nyampe segala macam bidang. Yang terhebat dari makna belajar itu sendiri adalah pengalamannya sangat individual. Maka, setiap kali kamu melakukan kesalahan, ukur dulu dari berbagai standar!

m.    Mind
Perhatikan urusan sendiri dan tidak menyebar gossip tentang orang lain. Gossip-gosip, banyak hal yang tak bisa dipungkiri mengenai satu ini. Banyak orang yang hamper senang bergosip. Tetapi, tahan tangis ya kalau digosipin (hehe). Tetapi jangan khawatir, kamu banyak melakukan aktivitas yang penting kan? Daripada bergosip nggak karuan? Ayo sibukkan diri!

n.      Never
Jangan terlibat skandal seks, obat terlarang, dan alcohol karena sekali mencoba bakal ketagihan dan susah melepaskan diri darinya.

o.      Observe
Amatilah segala hal disekeliling kamu. Di sini kita tidak membicarakan Einsten yang jenius atau Thomas Alpha Edison yang menyebarkan ilmu padi dan lampu kehidupan. Mari kita simpan tentang cerita Habibie yang cemerlang. Bukan menampikkan. Tetapi merapikan kisahnya dengan berguru pada perjalanan mereka. Awalnya, mereka tidak berpikir untuk dikenang sepanjang masa. Awalnya, mereka tidak tahu wujud karyanya seperti apa. Mereka hanya dimaknai sebagai awal pencarian. Buktinya, mereka tidak berhenti sampai banar-benar menemukan apa yang mereka cari.

Di manapun kita berpijak, di sanalah dunia kita. Kita tidak harus mempelajari musim gugur dan musim semi dengan serius. Mana mungkin. Kita hidup di Negara yang memiliki dua musim. Seorang petani tidak harus menduduki bangku kuliah untuk menghasilkan panen yang baik. Petani merasakan aroma sawah dengan pengalaman dan pengetahuan yang disajikan oleh lingkungan. Peralatan petani adalah cangkul, bajak dan peralatan lainnya. Dia bereksprimen tanpa aneka catatan dan ujian. Tetapi mereka dapat menampakkan hasilnya bagi kesejahteraan manusia. Oh, mari kita berkisah tentang para pedagang di pasar. Setiap hari mereka  disibukkan dengan prediksi harga barang. Dengan menimbang situasi dan selera konsumen, barang-barang yang dijual bervariasi harganya. Tentu tidak sama setiap hari. Bagaimana mereka menentukan hal-hal tersebut? Pasti dengan eksperimen yang matang.

p.      Patience
Sabar adalah kekuatan tak ternilai yang membuat kamu terus berusaha. Sabar bukan berarti diam. Tetapi kesabaran itu dapat dimaknai sebagai katengguhan, tanggap, aktif, dan kreatif.

q.      Question
Pertanyaan perlu untuk mencari jawaban yang benar dan menambah ilmu. Tetapi banyak bertanya yang bikin orang bĂȘte juga harus diwaspadai, biar tidak dicuekin! Jangan terlalu berharap pula pertanyaan itu akan terjawab. Adakalanya kita lebih baik tidak mengetahui jawaban yang membuat hati ini terkoyak. Terima saja grey area, black area, atau dunia yang hitam putih dari semakin banyak tanya yang kita lontarkan. Maka dari itu, pertimbangkan dulu, pertanyaan itu dari segi apa, untuk siapa, dan bagaimana dampaknya kalau kita ajukan!

r.        Respect
Hargai diri sendiri dan orang lain. Pada kenyataannya, ada saatnya orang dihargai dengan berbagai atribut yang melekat dalam dirinya. Bisa nggak sih kita nyapa dengan kemurnian hati kita? Ayo, kita belajar menghargai orang lain dengan tanpa berpikir baik buruknya kepentingan pribadi kita. Karena gak semua anak kecil senang diberi permen atau kadang orang dewasa merasa perlu diberi peringatan!

s.       Self-Confidence, Self-Esteem, Self-Respect
Percaya diri, harga diri, citra diri, penghormatan diri akan membebaskan kita dari saat-saat tegang. Dengan kepercayaan diri, kamu akan melihat segala apa yang dihadapi dengan perasaan menang. Minimal kamu akan mengatakan dulu, “ah, ini pasti mudah”. Lantas, semua yang kamu pikirkan, rasakan, dan lakukan tidak semurni-murninya sama dengan orang lain. Mungkin apa yang orang lihat selama ini adalah kesempatan kamu untuk mendapatkan peluang di saat-saat kamu terpuruk. Ternyata masih ada juga orang yang mau tersenyum kepada kita, tentunya bukan senyum sinis melainkan senyum manis.

t.        Take
Bertanggung jawab pada setiap tindakan kamu. Kita sering terjebak dengan kata harus. Kata harus tertanam kuat dalam kegiatan sehari-hari, bahkan sudah menjadi pola pikir kita. Kata harus yang mana yang mesti kita bicarakan? Kita gambarkan saja dengan cerita-cerita berikut:

Keharusan yang pertama adalah target yang kita capai. Agaknya bukan penekanan pada kata harus. Tetapi, target yang biasanya kita tentukan. Pada saat melakukan diet, misalnya, tentunya setiap orang ingin cepat turun berat badannya. Nah, keinginan itu kita tanamkan di kepala. Ada filosofi menarik tentang hal ini. Ketika kita terus mengejar target, sementara kita tidak mengukur kemampuan yang dimiliki, akhirnya kata harus itulah yang menekan kita. Akhirnya kita capek karena terjebak pada target yang ideal. Kerana tidak setiap orang mampu mencapai hal yang sempurna. Dengan pertimbangan segenap potensi yang ada, buatlah target dengan mengurangi makan secara perlahan-lahan. Alhasil, proses yang dijalani dengan baik akan sejalan dengan hal yang baik pula. Kita sering pula terbuai dengan angan-angan, tidak apa-apa asal mampu berupaya sekuat tenaga untuk mewujudkannya. Sekali lagi, tidak harus, kok!!!

u.      Understand
Pahami bahwa hidup itu naik turun, namun tak ada yang dapat mengalahkan kamu. Tetapi, kamu juga bakalan dihadapkan pada sesuatu yang tak selamanya harus dimengerti. Itulah dunia orang dewasa. Kadang, serangkaian tanya tak perlu jawab dan bergulir seiring berjalannya waktu.

v.      Value
Nilai diri sendiri dan orang lain, berusahalah melakukan yang terbaik. Orang lain boleh dijadikan acuan untuk mengukur sejauh mana kemampuan kita dalam suatu hal. Tetapi ingat, mereka tak lebih baik atau tak lebih jelek dari pada kamu. Bersainglah secara sehat.

w.    Work
Bekerja dengan giat, jangan lupa berdo’a. dalam hidup ada pengaturan Yang Maha Kuasa. Sesuatu yang tidak bisa ditawar dengan nangis darah atau banjir keringat. Sesuatu yang bernama kegagalan dan keberhasilan. Luapkan saja upayamu seoptimal mungkin. Tetapi ada saatnya kita harus melewati bagian-bagian yang kadang tak mungkin dapat diterima.

x.      Xtra (Ekstra)
Usaha lebih keras membawa keberhasilan. Anggaplah semua yang hadir di depan kita adalah suatu jalan. Jalan apapun. Ada jalan yang berkelok, jalan yang curam, jalan yang licin, jalan-jalan kemana saja. Kadang, lihatlah dunia dengan cara pandang yang berbeda. Setidaknya, kamu anggap mawar merah akan menjadi saksi, bahwa kamu mencari wanginya. Bunga melati memutihkan dunia dengan keeksotikannya. Daun-daun berwarna-warni seolah mengingatkan seribu jalan lain yang berbeda. Kerikil yang kita temukan bisa juga dijadikan hiasan rumah. Dengan pemandangan yang tak beraturan, kita bisa memaknai suatu lukisan kehidupan.

Kadang kita jumpai orang-orang yang penuh gelora. Mereka merekayasa jalan kehidupannya. Dengan belajar memahami semua itu, cobalah merekam dengan imajinasi, bahwa cerita itulah yang nanti akan mengawali coretan-coretan pena kita. Tak perlu langsung tertuang, biarkan dulu membeku di relung hati. Menjelajah semak kognitif, suatu saat kita akan menemukan ide-ide itu. atau kita luapkan dalam secangkir kopi manis. Rasakan dulu kehangatan dan kenikmatannya.

Susahnya, kalau mendapau inspirasi yang tiba-tiba, kita seolah menjumpai bencana yang dahsyat. Lari seolah akan ketinggalan kereta. Menggeliat dengan manja seolah kerja keras sepanjang hari. Menghentakkan badan seolah mendengarkan alunan music yang indah. Bahkan kadang menguras semua keringat agar lemak tubuh berkurang.. ah, semua terjalani dengan keasyikan. Tak perlu menyerah dengan pandangan orang yang asing dengan prilaku kita. Toh, mereka tidak bisa sedikitpun merasakan apapun yang kita rasakan. Mereka tidak bisa meraba sejuta pola yang terbangun rapi di kepala. Demi karya besar kita, jangan berpaling sedikitpun, karena ide-ide itu bagaikan kilat, sekali menyambar maka letak garis akan tergambar di sana. Karena tidak terjadi dua kali., tulis saja dengan rangkaian kata yang mengalir. Jangan menyulap semua langsung menjadi karya yang benar-benar besar, tunggulah sampai kita bisa mengidentifikasi mana yang akan kita lahirkan dan mana yang akan kita eliminasi. Ini, adalah pengalaman dalam menulis!

y.      You
Kamu dapat membuat sesuatu yang berbeda. Era postmodern semakain menegaskan sejumlah tuntutan dan tantangan. Orang tidak lagi mencari seseorang yang berada pada level rata-rata. Dicari!!! Orang yang benar-benar unik dan berbeda.

z.       Zero
Usaha nol membawa hasil nol pula. Kesulitan selalu bersanding dengan kemudahan. Ada upaya, ada hasil. Walaupun sejelek-jeleknya hasil, itulah karya terbesar dari serangkaian usahamu. Daripada diam itu bukan emas?

DO'A PETANI

di bulir padi yang menguning
telah kau catat setengah harapanmu
tapi burung yang berkicau di atasnya
membawa nafsu
menghantam apa yang tercatat
dan tubuhmu lesu dipembaringan

pada lumpur yang membungkusmu
telah kau pahat ketegaran
dengan cangkul-cangkul yang menari
mengiringi nyanyian peluhmu
dan panas matahari yang kau mandikan
mengubah harapanmu kian pekat
dan tubuh ringkihmu telah menjawabnya

pada cuaca yang telah menjadi saksi
kau pahat senyum dan air mata
bahagia dan kecewa juga kau ukir
hujan yang kau kejar
terik yang kau datangi
adalah do'a yang yang kau tebar
di pucuk-pucuk rumpun padi
nafsumu adalah padi yang mulai bunting
harapanmu adalah padi yang menguning
ceritamu adalah padi yang bening


Andam Dewi
Selasa, 16 Oktober 2012
Pukul 16.57 WIB

SAJAK BIRU

anakku...
jemari ibu yang membesarkanmu
jemariku yang mengajarimu
jemari ibu yang mendo'akanmu
dan ibu ingin bertanya:
ibu mana yang membiarkan
putranya hidup dalam dosa?
ibu mana yang membiarkan
buah cintanya tak bahagia?
ibu, seperti ibu-ibu yang lain
lantunan do'a ibu hanya untukmu
benak, pikiran, dan jiwa ibu
hanya mengharap
ruang kosong dalam hidupku ini
kaulah yang mengisi
lihatlah kesepianku
lihatlah kesunyianku

pulanglah...
istana mungil ini
telah begitu merindukanmu
jendela, pintu, teras rumah
ruang tengah, kamar tidur, meja makan
dapur bahkan kamar mandi
selalu bertanya pada ibu
kapan lagi kau bergurau dengannya
kapan lagi kau dendangkan
lagu-lagu cinta seperti dulu

pulanglah anakku
bawalah kebahagianmu
akan kukecup
kening dan ubun-ubun cintamu
kubisikkan do'a
pada calon putra mahkota kita


Andam Dewi
Senin, 5 Nopember 2012
Pukul 11.50 WIB

SAJAK PUTIH

ibu...
besok aku ingin pulang
lupakanlah sekejap kemarahanmu
karena aku datang membawa maaf
karena telah melukai hatimu
membuatmu murka
dan meninggalkanmu

ibu...
besok aku menginjakkan kaki lagi
di istana yang dibangun
almarhum raja hatimu
tapi aku tak datang sendiri
aku datang bersama menantumu
yang sedang mengandung cucumu
cucu pertamamu
ketika menantumu menginjak istanamu
pertama sekali berilah dia restumu
untuk mendampingi aku putramu
usap dan kecupla ubun-ubunnya
sentuhlah perutnya dengan lembut
selembut kasihmu menyentuhku dulu
bisikkan do'a sucimu

baik buruk
dialah permaisuri hatiku


Andam Dewi
Minggu, 4 Nopember 2012
Pukul 14.55 WIB

APA ARTI KETAKUTANKU?

biarkan waktu yang menjawab
karena kehilangan bukan ini yang pertama
cukup resah
cukup takut
dan apa yang bisa kuperbuat
mulut yang dialiri darah
benak yang dialiri nanah
hanya bisa kuteguk setetes
demi setetes
dan aroma yang membangkai
kelak akan kudekap
dalam tidur sepiku
aku tak yakin luka itu akan kering
dan air mata yang telah kualirkan ke lima samudera
tak mampu menjawab
tumpukan tanda tanya
yang telah menggunung di lima benua
padang pasir gurun gobi dan sahara
telah merasa jenuh
karena air mata yang kualirkan
telah menulis cerita asing
yang tak mampu difahami
tanah, air, angin, awan, dedaunan
lantas mampukah kau fahami
apa arti ketakutanku?

Andam Dewi
Jum'at, 2 Nopember 2012
Pukul 10.50 WIB

CATATAN AKHIR HARI

lewat sudah
yang terjelang
menghilang
lupa
khilaf
tak terarah
kita
bukan mereka
yang tertawa
yang menangis
mengerlingi
yang manis
meronta naluri
kuat
silih berganti
pada resah
yang kita jalani
bukanlah do'a
kita berteriak
melontarkan imajinasi
kebablasan
tak jadi perkara
dengan meringis
kita menyeret langkah
menuju masa depan
yang tak tau
seperti apa

ini kita
bangsa lupa
bangsa buas

Andam Dewi
Senin, 8 Juli 2013
Pukul 11.53 WIB

AKU DAN RUPA YANG LUPA

Di rupa yang penuh coreng moreng masa lalu terlukis dosa laknat
Pada tengah hari selepas jum'at lalu ku hadapkan juga ke lembah indah itu
Tapi tanpa kata aku menengadah pada hijaunya dedaunan sunyi
Aku tak dapat mengerti nyanyian yang kudengas sekilas rupa
Aku buta pada makna buta pada kata buta pada luka buta pada senyum
Rupa telah lupa aku adalah jejak masa lalu yang terus melangkah dengan pongah
Membusungkan dada kerempeng pada matahari dan rembulan

Andam Dewi
Selasa, 13 Agustus 2013
Pukul 17.00 WIB

JANGANKAN KAU AKU SAJA TAK FAHAM


Cukup rupa semata tak perlu nama atau sebutan tetek bengek
Yang kucari bukan aroma wangi nafas dari tubuhmu itu
Kau tak akan mengerti tentang laju pikiran yang melintas pada benakku tentang rupa milikmu
Toh kita tak pernah tegur sapa jangankan itu aku saja tak faham ini dan itu yang ku maksud ini
Tapi rupamu telah cukup jadi bayangan masa depan yang biarpun jadi hantu aku sepertinya tak sebegitu takutnya
Entah apa arti doa pada rupamu yang kucopas ini jangankan kau aku saja tak cukup faham
Tapi jangan bertanya kenapa aku lakukan ini kan sudah kukatakan aku saja tak faham kegilaan ini

Andam Dewi
Rabu, 14 Agustus 2013
Pukul 17.05 WIB

: kepada wajah yang kucopas lalu kuupload lagi

PADA WANITA YANG WAJAHNYA MENGHILANG

pernah tertulis tentang langit
yang awannya berarak lurus ke kebahagiaan
tapi badai melemparkannya
searah diagonal waktu
pukul emam tepat telah bergeser
menjadi pukul delapan sepuluh menit

tapi di mata ada mendung yang berujung hujan
di mulut ada suara tertahan yang tak tertahan
di hidung ada air yang di tarik selang beberapa jenak
tapi kelak akan reda
tinggal bara dalam dada
yang terus memanas
karena lajunya tak terhenti menuju benci

tak ada lagi senyum
tak ada lagi empati
semua menghilang
bara membakar rindu
bara membakar mimpi
bara membakar diri

Andam Dewi
Selasa, 22 Oktober 2013
Pukul 11.45 WIB

PADA WANITA YANG MENGINGKARI HATINYA

mendung berlalu di sisi angin
mengepak dari jelmaan ding dong jam dinding
waktu tak bisa di tanya tentang luka
padahal hidup adalah kesaksian

kepalanya tertunduk di setiap ding dong jam dinding
menerawang pada lekuk awan yang mendung
tak ada kata yang jadi mantra
yang menyulap kegundahan hati
sesal saja tak dapat lagi dipujuk

air matanya jatuh lagi
di kelopak mata yang lembab
puisi-puisi membuat mendung bergolak
lagi tangis hati memiris

Andam Dewi
Rabu, 23 Oktober 2013
Pukul 13.25 WIB

MASIHKAH KITA RAKYAT INDONESIA (SEBUAH CATATAN KECIL TENTANG SEKELUMIT KEKECEWAAN PADA PESTA DEMOKRASI BERNAMA PEMILIHAN UMUM)



Ini tentang pesta demokrasi bernama pemilihan umum
Yang akan menorehkan luka lagi dari berbagai sendi kebangsaan
Rakyat kecil kecewa pada mereka yang dianggap mampu mengemban aspirasi
Janji sekian puluh kali berlipat-lipat dalam ingatan setiap orang
Lalu menghilang saja seperti lukisan di atas air hanyut di bawa arus
Bergaung gema tanya, “Masihkah kita rakyat Indonesia?” yang entah siapa yang akan menjawab
Padahal segolongan kaum intelek dan terpelajar ikut ambil bagian di dalamnya
Tapi ilmu saja ternyata tak cukup untuk jaminan bangsa yang sejahtera, damai, adil dan makmur
Slogan-slogan hanya retorika yang menjadi sajak dan pada waktunya menggelapar kekurangan nyawa

Ini tentang pesta demokrasi bernama pemilihan umum
Yang menghadirkan actor-aktor kawakan dunia perpolitikan yang pada akhirnya sangat menjijikkan
Para sineas-sineas handal promotor pergerakan roda yang pincang ke sebelah nafsu
Dan kesejahteraan terperkosa tanpa peduli akan melahirkan bayi bernama politik jadah dan najis
Lalu bergaung pula tanya yang sama, “Masihkah kita rakyat Indonesia?”, yang kita tau tak akan pernah terjawab
Padahal alim ulama dan cendekiawan dari segala agama ikut maju membaurkan diri di dalamnya
Tapi keimanan rupanya telah melemah karena nafsu pada berhala bernama rupiah menutup pori-pori keikhlasan
Slogan haram dan dosa hanya terletak pada peta dua daging yang merah merekah lembut menawan

Ini tentang pesta demokrasi bernama pemilihan umum
Banyak yang mengaung tanpa memperdulikan makna mana yang di cari
Banyak yang terumus tapi semua malah terjerumus
Janji jadi teka-teki paling rumit dalam sejarah peradaban manusia
Manusia jadi srigala yang saling memangsa dan di mangsa
Tersesat pada peta buta dan mati berjudul kesejahteraan, damai, adil, dan makmur
Padamu negeri jiwa raga kami atau jadi pandu ibu pertiwi
Tapi kerakyatan, kebangsaan, dan nasionalisme itu hanya semata untuk rakyat
Tanya, “Masihkah kita rakyat Indonesia?”, tak perlu dijawab dan biarkan mengaung
Seperti bendera merah putih yang tetap berkibar ketika angin berhembus tak perduli terlihat sumbang
Kaum intelek dan terpelajar jadi dungu dan papa di peta politik
Kaum alim ulama dan cendekiawan jadi summum bu’mun umyun fahum la yarji’un
Slogan haram dan dosa di jawab enteng, “Nantikan masih bisa bertobat!”

Andam Dewi
Senin, 19 Agustus 2013
Pukul 10.55 WIB