Sabtu, 02 Mei 2015

PUISI-PUISI AHMAD YULDEN ERWIN

PERIHAL 
Hal ini berjatuhan 
Di kepala, merayap pelan
Di kaki semut-bulan
Tersuruk ke rumpun duri 
Terpukau pelangi, berguling
Di perut cacing-matahari
Kemudian udang, tripang
Aglonema, dahlia, kaca diaduk 
Ditumbuk sehalus-halusnya. 

Hal ini berhamburan 
Di hati, mengintip tumit penari
Di jalan berlumpur: tanah, tahi
Di bawah pohon api: sepasang kaki
— Bukan, ini bukan metafora —
Hanya mirip sesuatu yang ditempa 
Dipotong, digerinda, dilempar
Ke muara, tenggelam, muncul lagi
Di danau kering, di tebing tulang 
Diasah ke pejal urat, diseret masuk 
Ke sumsum mabuk, disedot ke tengah 
Sunyi, dilindas berkali, tumbuh lagi 
Dibakar, menyembul tunas baru. Dicabut.

Jika kau setangguh itu, tuliskan puisimu.

FRAKTAL MATAHARI
Bagi Iswadi Pratama1
Matahari dan sebelas penjaganya. Inskripsi
kekosongan. Segala kosong adalah cicak perak
dan ekor merahnya; sepasang gagak bersiul

di dahan cendana; lidah api bersurai serigala! 
Waktu memeluk hutan dan tebing longsornya. 
Waktu menyapa bulan dan kuning obornya. 

Waktu adalah jejak kesunyian. Waktu adalah 
pintu rumah siput dan maut keabu-abuan. 
Maut adalah ibu yang terlelap di bawah hujan.

2
Maut adalah cahaya. Maut menyapa bekas  
luka di punggung kita. Maut adalah pena dan 
puisi-puisi menanti pembaca. Maut adalah

jendela dan sepasang mata kumbangnya.
Maut adalah senyum kecil di kuil air mata.
Maut adalah muara dari segala peniadaan.  

Maut adalah kehidupan. Lampu padam. 
Batu menyala, juga waktu, dan kesunyian
yang terbelah bagai sepasang payudara.

3
Hidup adalah cacing, juga seekor kucing 
yang menembus dinding kata-kata. Hidup selalu 
berhembus di luar definisi. Hidup menuai 

setiap imaji. Hidup berdendang bersama spora,
ganggang, dan amuba; bersama selarik puisi 
yang mengunyahnya. Hidup adalah kerinduan 

yang memeluk jantung angin. Hidup adalah 
kesunyian dan sedan ranjang tanpa pengantin. 
Hidup adalah desah sungai di gerbang labirin.

4
Matahari dan sebelas penjaganya. Matahari
yang tak pernah sama. Matahari yang selalu
ramah pada debu atau cakrawala. Matahari

yang menari bersama hidup dan kematian.
Matahari kita, matahari yang lahir dari rahim
kepedihan. Kisahkanlah, kisahkan kembali 

air mata kita, o, tuliskanlah dengan keriangan 
rumput-rumput sabana, dengan keheningan
seorang tualang yang telah pulang ke rumahnya.
  
HALAMAN
Kini mulai kubaca lagi halaman rumahku:
Pagar batu, dua rumpun seruni, sepasang
kelinci, juga tiga baris haiku yang memeluk 

ranting petai cina. Kau tidak bisa bertanya: 
Apakah Tuan tengah bermimpi atau terjaga? 
Tiada batas kecuali dalam pikiranmu semata. 

Tanah basah, genangan air bekas hujan, kilat
tiba-tiba menyergap seperti sekuntum anyelir  
yang mekar di fajar mataku. Jika kau dapat

melihat dengan jernih, maka akan kaudengar
kicau sepasang kutilang di dahan mangga; 
akan kaurasakan pula desir angin membelai

kuntum-kuntum widuri di halaman tetangga.
Pada saat itu, janganlah sungkan bertanya: 
Apakah Tuan tengah bermimpi atau terjaga? 

TANKA MAGNOLIA
kita adalah percik 
dari kesunyian

jejak kosong
di ladang bintang-bintang

lalu puisi dituliskan 

— perlahan 

satu dunia tercipta
tumbuh di putik magnolia 

mekar dan gugur
lalu hancur 

— tanpa kata

matahari kita 
mekar di kuntum magnolia.



--------
Ahmad Yulden Erwin, lahir di Tanjungkarang, 15 Juli 1972. Ia aktif menulis puisi dan prosa sastra sejak tahun 1987. Tahun 1997, ia menyelesaikan pendidikannya di Fakultas Ekonomi Universitas Lampung. Beberapa puisinya pernah diterbitkan di media massa lokal dan nasional, juga dalam beberapa antologi puisi bersama. Setelah tahun 1999 praktis ia berhenti mempublikasikan puisi-puisinya dan lebih banyak aktif di gerakan sosial antikorupsi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar